Selasa, 24 Januari 2012

PRINSIP-PRINSIP METODE MENGAJAR



Mentode mengajar yang digunakan dalam situasi belajar-mengajar banyak jenisnya, baik yang termasuk metode tradisional maupun metode modern. Metode-metode tersebut akan penulis uraikan dalam makalah ini. Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam melaksanakan metode-metode tersebut juga akan kami uraikan. Prinsip-prinsip tersebut adalah individualitas, kebebasan, peranan lingkungan, globalisasi, pusat minat, aktivitas, motivasi, pengajaran berupa, pengajaran berkorelasi, konsentrasi dan integrasi. Ptinsip-prinsip tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan satu sama lain.
Prinsip-prinsip yang akan kami uraikan dalam makalah ini adalah prinsip individualitas, kebebasan, lingkungan, dan globalisasi. Prinsip-prinsip yang lain akan di uraikan oleh pemakalah yang lain.
  1. Individualitas
Individu adalah manusia orang-seorang yang memiliki pribadi/ jiwa sendiri. Kekhususan jiwa itu menyebabkan individu yang satu berbeda dengan individu yang lain. Dengan perkataan lain, tiap-tiap manusia mempunyai jiwa sendiri.
Pada umumnya penyebab perbedaan itu dapat digolongkan ke dalam dua factor, yaitu faktor dari dalam (internal factor) dan faktor dari luar (external factor). Sejak lahir ke dunia, anak sudah memiliki kesanggunpan berpikir (cipta), kemauan (karsa) dan kesanggupan luhur yang dapat menghubungkan manusia dengan Tuhannya. Kesanggupan-kesanggupan ini tidak sama bagi setiap anak. Selanjutnya dengan adanya faktor luar seperti pengaruh keluarga, kesempatan belajar, metode mengajar, kurikulum, alam, dsb. semakin menambah perbedaan kesanggupan murid. Secara terperinci perbedaan itu dapat dilihat pada:
a.       Perbedaan umur (usia kalender)
Sejak dahulu hingga sekarang orang menentukan tingakt kelas murid berdasarkan umurnya, misalnya kelas satu SD terdiri dari anak-anak yang usianya enam tahun. Semua anak-anak yang duduk pada suatu tingakatan/ kelas berdasarkan umur dianggap dapat memperoleh keuntungan yang sama dari pelajaran dan kegiatan-kegiatan yang  diberikan dengan metode penyajian yang sama. Ketidakmampuan seseorang menguasai materi yang diberikan dijelaskan secara sederhana bahwa hal itu hanya disebabkan oleh faktor kemalasan. Jadi sama sekali tidak diperhatikan kenyataan bahwa murid-murid berbeda kemampuannya dalam menerima pelajaran atau dengan kata lain tidak dipertimbangkan bahwa anak-anak yang usianya sama tidak selalu memiliki tingkat kematangan belajar yang sama.
b.      Perbedaan intelegensi
Jika kita bandingkan antara anak yang pada dasarnya pandai dengan anak yang kurang pandai, maka akan kelihatan beberapa perbedaan seperti berikut:
Anak yang pandai:
-          Cepat menangkap pelajaran.
-          Tahan lama memusatkan perhatian pada pelajaran dan kegiatan.
-          Dorongan ingin tahu kuat, banyak inisiatif.
-          Cepat memahami prinsip-prinsip dan pengertian-pengertian.
-          Sanggup bekerja dengan pengertian abstrak.
-          Dapat mengkritik diri sendiri, tahu bahwa ia tidak tahu.
-          Memiliki minat yang luas.
Sedang anak yang kurang pandai berlaku keadaan sebaliknya:
-          Lambat menangakap pelajaran.
-          Perhatiannya terhadap pelajaran cepat hilang.
-          Kurang dan tidak punya inisiatif.
-          Dan seterusnya.
c.       Perbedaan kesanggupan dan kecepatan
Dalam melakukan kegiatan-kegiatan sekolah, kesanggupan dan kecepatan anak berbeda. Anak yang cerdas akan jauh lebih cepat menyelesaikan tugas-tugasnya dalam hitungan daripada anak yang kurang cerdas. Demikian pula dalam berbagai bidang terdapat perbedaan kesanggupan. Namun demikian, jarang dijumpai orang yang pandai atau bodoh dalam segala bidang. Yang umum ialah kurang pandai dalam satu atau beberapa bidang tetapi dalam hal lain menunjukkan kesanggupannya.
Berdasarkan kenyataan tersebut, maka perlu dipikirkan bagaimana cara mengorganisir pelajaran sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi atau sesuai dengan kesanggupan anak sebagai individu.
Dr. Maria Montessori yang mula-mula memperhatikan hal ini dan menganjurkan adanya pengajaran individual. Prinsip yang dikemukakan adalah : "pekerjaan sekolah harus disesuaikan kepada individu". Anak-anak harus diberikan kesempatan untuk mengembangkan diri sesuai dengan daya-dayanya yang terbaik dan sesuai dengan kecepatan berkembang pada masing-masing anak.
Untuk memenuhi prinsip perbedaan individu, Thomas M. Risk mengemukakan dua macam  pendekatan yaitu:"One approach placed emphasis upon individualized instruction to provide for individual needs and supplied group work of some kind as a supplement to provide for socialization. The other approach placed emphasis upon group work and used various means to provide for individual needs".
Kedua pendekatan ini bukanlah merupakan dua hal yang bertantangan melainkan saling mengisi dan sama pentingnya. Pendekatan yang pertama lebih menitikberatkan pada pengajaran individual untuk memenuhi kebutuhan individu dan belajar kelompok hanya merupakan pelengkap untuk sosialisasi. Sebaliknya, pendekatan yang kedua berusaha memenuhi perbedaan-perbedaan individu dengan mengorganisir kegiatan-kegiatan belajar yang perlu bagi  murid dalam hubungannya dengan kegiatan kelompok.
Usaha menyesuaikan pelajaran dengan perbedaan individu
Sampailah kita sekarang pada pembicaraan mengenai usaha-usaha apa yang dapat dilaksanakan agara pengajaran yang diberikan sesuai dengan perbedaan individu. Berikut ini akan kami kemukakan beberapa di antara usaha tersebut.
a.      Individualized assignments
Guru merencanakan tugas-tugas perorangan sesuai dengan kebutuhan murid yang bersangkutan. Tugas-tugas tersebut disertai petunjuk pelaksanaan, dimasukkan dalam kertas kerja. Setiap anak bekerja dengan bebas menurut kecepatannya di bawah pengawasan guru. Latihan-latihan menilai diri sendiri dipraktekan sehingga dengan demikian murid sanggup membantu diri sendiri dan bekerja dengan bebas walaupun mereka di bawah pengawasan. Penilaian terakhir untuk setiap bagian pekerjaan/ tugas dilakukan oleh guru. Sewaktu-waktu penyesuaian-penyesuaian tugas dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan minat murid. Pemberian tugas seperti diatas dapat dilaksanakan dengan mengikuti Winetka Plan dan Dalton Plan.
b.      Pengajaran unit atau proyek
Dalam bentuk pengajaran ini anak-anak secara bersama-sama menghadapi dan memecahkan suatu masalah dengan mengikuti langkah-langkah umum pemecahan ilmiah yang dianjurkan oleh J. Dewey.
o   Merealisasi adanya suatu masalah. Menydari dan merumuskan kesulitan yang dihadapi.
o   Menyusun hipotesis
o   Mengumpulkan, menilai dan mengklasifikasi data.
o   Mengevaluasi dan mencoba hipotesis.
o   Mengambil kesimpulan atau membuat laporan, pameran dan sebagainya.
Walaupun pada prinsipnya proyek atau unit dilakukan oleh kelompok, namun dalam beberapa hal murid harus bekerja sendiri-sendiri sesuai dengan minat atau bahan yang dipilihnya. Untuk selanjutnya metode proyek.
c.       Homogeneous grouping
Tujuan utama dari pengelompokan ini adalah menyatukan murid-murid yang dapat mengambil manfaat dari aktivitas-aktivitas kelompok yang sama. Umumnya pengelompokkan ini didasarkan atas kemampuan, bukan atas usia. Jadi, lebih menyesuaikan aktivitas-aktivitas kelompok daripada terhadap perbedaan-perbedaan individual. Namun demikian, oleh karena sifat kelompok yang homogen, bantuan individual yang diperlukan lebih mudah diberikan dibanding dengan kelompok yang heterogen.
d.      Remedial work
Cara ini ditempuh bila terdapat kesalahan-kesalahan atau kesulitan-kesulitan yang dibuat atau dihadapi oleh murid secara individual. Cara ini hanya mungkin ditempuh bila sudah diketahui kesalahan atau kesulitan ini sebelumnya yang harus diperbaiki dan kebutuhan-kebutuhan pribadi lainnya dapat diketahui melalui diagnostic test.
e.       Teknik bertanya
Teknik ini dapat digunakan untuk memenuhi perbedaan individual dengan cara: pertanyaan yang sukar diberikan kepada anak yang pandai dan pertanyaan yang mudah kepada anak yang kurang pandai. Giliran dalam bermacam-macam bidang studi diberikan kepada murid yang sangat memerlukan bantuan, tidak hanya kepada murid yang pandai saja. Dengan demikian anak yang pandai tidak menjadi sombong dan anak yang kurang pandai tidak merasa harga diri kurang.
f.        Mengusahakan pemberian tugas-tugas pelajaran di luar sekolah
Tugas itu bisa bersifat latihan-latihan atau mengulang pelajaran yang sudah dipelajari bagi anak yang kurang, sedang yang bersifat menambah hal-hal yang belum dipelajari bagi anak yang pandai.

  1. Kebebasan
Jika kita membicarakan tentang kebebasan, maka yang dimaksud bukanlah berarti bahwa dikelas harus ada kebebasan yang tidak terbatas. Kehidupan di dalam kelas harus terikat pada aturan-aturan tertentu dalam arti yang positif. Pada prinsipnya pengertian kebebasan mengandung tiga aspek, yaitu: "Self-direction, Self-discipline and Self-control". Kesalahan mengartikan kebebasan menjadi sebab dari kebanyakan bencana sosial yang kita hadapi tidak hanya disekolah tetapi juga di semua lembaga. Fulthon Sheen telah membatasi kebebasan dalam tiga kategori yaitu: anarchy, totalitarianism, dan democracy. Kebebasan yang ketiga inilah yang dipersamakan dengan self-direction, self-discipline and self-control.
Sejak awal masa kanak-kanak setiap individu bergantung pada orang dewasa dalam hal kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Ketika anak itu tumbuh dan berkembang, mulailah ia merasakan dorongan melakukan segala-galanya menurut caranya sendiri. Dorongan ini terkadang dibatasi oleh orang dewasa bila dianggap menganggu. Banyak gejala rasa ketidaktergantungan anak dilihat oleh orang dewasa sebagai pembangkangan, tidak menyesuaikan diri atau kekasaran. Ada kalanya beberapa di antara anak muda lebih cepat matang untuk mengarahkan dan menentukan diri sendiri disbanding dengan yang lain. Kendatipun demikian ada beberapa orang tua dan guru tidak memperkenankan hak mengarahkan dan menentukan diri sendiri itu bagaimanapun matangnya anak. Seseorang yang menginginkan pengarahan diri sendiri tanpa disiplin diri adalah paradoks. Bisa saja ia menjadi seorang yang mementingkan diri sendiri (selfish), tetapi hal itu berbeda sekali dengan orang yang mengarahkan diri.
Self-discipline menyarankan pembuatan keputusan-keputusan tentang tindakan-tindakan seseorang didasarkan pada ukuran kebajikan, walaupun aliran-aliran filsafar mempunyai pengertian yang berbeda tentang kebajikan. Dalam kenyataan hidup sehari-hari sering terjadi orang mempertaruhkan kesejahteraan dan keselamatan dirinya untuk kepentingan dan kebajikan umum atau untuk mencapai sesuatu yang lebih baik.
Self-discipline yang sejati harus datang dari dalam diri sendiri. Kalau dipaksa dari luar, akan berlangsung selama ada orang yang memaksakannya atau memberikan ancaman hukuman.
Self-control adalah suatu pengertian yang berbeda dari dari self-discipline, walaupun keduanya erat hubungannya. Self-control, seperti halnya self-discipline harus datang dari dalam diri. Tetapi beberapa pengarahan dan disiplin harus datang dari luar diri sehingga sistem kontrol diri berkembang. Orang dewasa yang bertanggungjawab atas pertumbuhan dan perkembangan anak muda tidak pernah melupakan kenyataan bahwa suatu disiplin yang dipaksakan dari luar harus ditujukan kea rah diri sendiri dan disiplin diri, bukan penurut dan penakut.
Disiplin bukanlah suatu yang pahit seperti halnya obat yang harus diminum karena bermanfaat bagi tubuh. Disiplin adalah suatu "organization frame" yang memungkinkan seseorang mengerjakan sesuatu. Sedikit sekali atau hampir tidak ada aktivitas manusia dapat berlangsung dengan sukses dalam suasana yang kacau dan penuh perselisihan antarpribadi.
Dalam situasi belajar-mengajar, metode disiplin yang digunakan oleh guru dapat mempengaruhi perkembangan kemampuan murid untuk menerangkan akibat-akibat dari tingkahlakunya. Guru-guru dan orang dewasa lain yang berhubungan dengan orang lain harus merupakan "therapits" dalam pendekatannya untuk memahami tingkah laku manusia dan memilih metode disiplin mana yang digunakan dalam setiap situasi.
Setelah mengetahui aspek-aspek yang tercakup dalam kebebasan, akan ditinjau lebih lanjut bagaimanakah pelaksanaan kebebasan itu dalam situasi belajar-mengajar atau bagaimana pelaksanaan suatu metode mengajar dapat mengembangkan self-direction, self-discipline, dan self control.
Setiap anak harus dapat mengembangkan diri dengan bebas, demikian prinsip yang menjadi cirri metode Montessori. Untuk itu anak-anak harus dibimbing sedemikian rupa sehingga dengan membimbing keaktifan mereka secara baik, mereka akan sanggup berdiri sendiri. Sebaliknya kalau guru menguasai murid-murid dan memeksakan kehendaknya kepada mereka, mereka akan menjadi orang yang sangat tergantung kepada orang lain dan tidak punya inisiatif.   
  1. Lingkungan
Manusia lahir ke dunia, dalam suatu lingkungan dengan pembawaan tertentu. Pembawaan yang potensial itu tidak spesifik melainkan bersifat umum dan dapat berkembang menjadi bermacam-macam kenyataan akibat interaksi dengan lingkungan. Pembawaan menentukan batas-batas kemungkinan yang dapat dicapai oleh seseorang, akan tetapi lingkungan menentukan menjadi seseorang individu dalam kenyataan. Tentang fungsi pembawaan dan lingkungan, Henry E. Garret mengatakan bahwa keduanya tidak bertentangan, melainkan saling membutuhkan.
Lingkungan yang buruk dapat merintangi pembawaan yang baik, tetapi lingkungan yang baik tidak dapat menjadi pengganti suatu pembawaan yang baik.
Dari hasil penyelidikan yang dilakukan oleh para ahli psikologi diperoleh petunjuk sebagai berikut: faktor pembawaan lebih menentukan dalam hal intilegensi, fisik, reaksi pengindraan; sedang lingkungan lebih berpengaruh dalam pembentukan kebiasaan, kepribadian, dan nilai-nilai. Kejujuran, gembira, murung dan ketergantungan kepada orang lain sangat dipengaruhi oleh training (belajar).
Hubungan lingkungan dengan belajar-mengajar
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat pengalaman dan latihan. Yang dimaksud pengalaman adalah interaksi antara manusia dengan lingkungan pengamatannya. Dalam interaksi itulah seseorang belajar. Dari pengalaman-pengalaman itu ia memperoleh pengertian-pengertian, sikap-sikap, penghargaan, kebiasaan, keterampilan, dsb. Lingkungan anak memperoleh pengalaman luas(keluarga, sekolah, alam sekitar, lembaga, dsb).
Mengajar adalah membimbing murid belajar atau membimbing pengalaman murid. Jadi, seorang guru harus mengatur lingkungan sebaik-baiknya, sehingga terciptalah syarat-syarat yang baik dan menjauhkan dari pengaruh yang buruk.
Prinsip lingkungan dalam mengajar sangat menekankan pada integrasi anak dengan lingkungannya. Apa yang dipelajari tidak terbatas pada apa yang ada di dalam text book, atau penjelasan-penjelasan guru di dalam kelas. Banyak hal yang dapat dipelajari dalam lingkungan anak. Pengajaran yang tidak menghiraukan prinsip lingkungan menyebabkan anak tidak dapat  menyesuaikan diri dengan norma-norma kehidupan di mana ia berada.
Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk melakukan prinsip lingkungan dalam pembelajaran adalah:
a.       Memberikan pengetahuan tentang lingkungan anak dan dari sinilah pengetahuan agama anak diluaskan.
b.      Mengusahakan agar alat yang digunakan berasal dari lingkungan yang dikumpulkan baik oleh guru  maupun murid.
c.       Mengadakan karya wisata ke tempat-tempat yang dapat mendukung untuk memperluas pengetahuan agama dan keimanan anak.
d.      Memberi kesempatan kepada anak untuk melaksanakan penyelidikan sesuai dengan kemampuannya melalui bacaan-bacaan dan observasi, kemudian  mengekspresikan hasil penemuannya dalam bentuk percakapan, karangan, gambar, pameran, perayaan,dsb.

  1. Globalisasi
Prinsip globalisasi diterapkan dalam pengajaran sebagai akibat dari pengaruh psikologi gestalt dan psikologi totalitas. Perkataan "Gestalt" berasal dari bahasa Jerman yang berarti bentuk atau rupa. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan "whole", sedang dalam bahasa Belanda adalah "blobaal". Psikologi ini mengemukakan bahwa bentuk itu lebih banyak artinya daripada jumlah unsure-unsurnya dan arti tiap-tiap unsur ditentukan oleh kedudukannya dalam bentuk. Psikologi totalitas mengemukakan tentanga pengamatan anak sebagai berikut:
Pada waktu mengamati sesuatu untuk pertama kalinya, terbentuklah suatu gambaran yang menyeluruh (global) tetapi kabur (bagian-bagiannya tidak begitu jelas). Sesudah pengamatan itu diulang, gambaran itu menjadi lebih terang, bagian-bagiannya semakin jelas kelihatan.
Jika ditinjau dari sudut murid sebagai pribadi yang melakukan belajar, maka psikologi gestalt mengemukakan bahwa "manusia beraksi terhadap lingkungan secara keseluruhan, tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara fisik, sosial, dsb".
Sesuai dengan prinsip psikologi gestalt dan totalitas tersebut, dapat disimpulkan bahwa bahan pelajaran agama yanga diberikan kepada murid hendaknya merupakan kesatuan yang bermakna, bukan bagian-bagian yang lepas. Begitu pula seluruh aspek (cipta, rasa, karsa, tingkah laku, hubungan social dsb) harus diperhatikan.
Prinsip globalisasi dalam pengajaran menekankan bahwa keseluruhan itulah yang harus menjadi titik permulaan pengajaran.  Anak selalu mengamati keseluruhan lebih dahulu kemudian bari bagian-bagiannya. Untuk kepentingan itulah maka di dalam kurikulum di beri petunjuk agar setiap guru membuat satuan bahasan, kemudian dari satuan bahasan itu dibuat satuan pelajaran.

Zakiyah Daradjat, metodik khusus pengajaran agama islam. Penerbit bumi aksara Jakarta cet. 4 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar